DALAM RANGKA PERINGATAN HUT R1 KE 69, KARANG TARUNA RW 10 MEMPERSEMBAHKAN ACARA " MALAM GEBYAR KREASI SENI BANYUBIRU 2014 "
LOMBA MAKAN TERBANYAK DALAM WAKTU 5 MENIT
MAMAAAAAMMM YUUUUUKKK......
MASTER OF CEREMONI/MC SEDANG ACTION MEMANDU ACARA
( PUTRI BAPAK TAUFIK & BAPAK FIRMAN )
KETUA PANITIA PELAKSANA MEMBERIKAN SAMBUTAN
( PUTRA BAPAK KETUA RT 2 )
INDONESIAAAAAAA.....TANAH AIRKUUUUUU.......!
MELANTUNKAN AYAT SUCI AL QURAN
( PUTRA BAPAK Rd. AJINUROCHMAN )
HAFIZ AL QURAN
( PUTRA BAPAK USTADZ H. SIHABUL BADRI )
KETUA RW 10 & PARA TAMU UNDANGAN
PERSEMBAHAN GITAR AKUSTIK
( PUTRA BAPAK H. SUSILOHADI & IBU LENI )
LENGGAK LENGGOK DI ATAS CATWALK
( PUTRI BAPAK SUSILOHADI & IBU LENI )
LAKI-LAKI JUGA GAK MAU KALAH DOOONNGGG......YEESSSS...!!!
LENGGAK LENGGOK DI ATAS CATWALK
( PUTRI BAPAK FARID ABDULLAH & IBU VISI )
teungteuingeun naon kalepatan abdi..teungteuingeun........!
bungaaakkuuuuuuuuu....daaahliaaaaaaaaa......!
( PUTRI DARI IBU APONG/BAPAKTARYONO )
ANIMO WARGA RW 10
DILANDASI SEMANGAT 45
DUDUK DIBATANG POHON PUN TIDAK JADI SOAL.....MERDEKAAA.....!!!
TEAM BUSER PUN SIAP SIAGA MENGAMANKAN ACARA
SEKELUMIT KATA DARI PRIBADOS
MAKNA HUT KEMERDEKAAN RI KE 69
Setelah tanggal 17 Agustus biasanya kita lupa kembali akan semangat nasionalisme Seolah lenyap begitu saja diterbangkan angin. Bahkan pekik merdeka yang beberapa hari lalu masih terasa getarnya, mungkin sekarang hanya terasa kosong penuh hampa. Semuanya kembali menuju aktivitas rutin masing-masing, yang korupsi kembali korupsi, yang miskin tetap seret mencari makan, dan yang menengah tak ambil pusing dengan semuanya. Gambaran rutinitas seperti itulah yang selama hampir 69 tahun kebelakang terjadi.
Kemerdekaan mengalami beraneka ragam makna, tapi hanya sedikit sekali yang benar-benar merenung kan arti kemerdekaan yang sejati. Betapa para pejuang yang terdahulu begitu gigih mengupayakan kemerdekaan, merelakan segenap harta dan nyawa merebut kemerdekaan meskipun mereka sadar bahwa mereka toh akhirnya tidak dapat ikut menikmatinya.
Sebenarnya apa yang ada dipikiran mereka saat itu? Entahlah, kami pun juga tak bisa menebaknya. Hanya bisa menduga bahwa mungkin mereka beranggapan, biarlah mereka menderita dan mengecap pahitnya dijajah asal anak cucu mereka tak tak ikut mengalaminya, biarlah anak cucu mereka hidup damai dalam merdeka, terserah mau mereka apakan kemerdekaan yang telah berhasil direbut ini.
Meski bagitu, mungkin mereka juga akan menangis setelah melihat saat ini, wujud kemerdekaan yang telah mereka upayakan tak seperti yang diharapkan. Korupsi yang membudaya, menjadi bangsa yang kaya tapi tetap menjadi budak di negeri sendiri, kemiskinan moral dan materi semakin tak terperi, adalah beberapa potret negeri kita yang belum teratasi. Mungkin saat ini kita tidak teringat dulu kakek-kakek kita pernah sama-sama tidak makan, sama-sama menderita, berjuang untuk kemerdekaan ini.
Lantas darimana kita akan dapat menyelaraskan arti kemerdekaan bila kita tak punya rasa kebersamaan yang diwariskan oleh beliau-beliau tadi? Bahkan untuk sekedar ikut membantu dana penyelenggaraan peringatan kemerdekaan pun ada yang masih berat hati meskipun sebenarnya kita mampu, inikah arti kemerdekaan yang akan kita wariskan kembali?
Malam menjelang tanggal 17 biasanya diadakan acara malam perenungan kemerdekaan, tapi sayang banyak yang telah mengalami pergeseran makna. Ada yang menganggapnya menjadi malam senang-senang penuh kegembiraan, ada yang menjadikannya sebagai malam reuni antar individu yanng sangat susah terkumpul di kota-kota besar, bahkan ada pula yang menganggapnya sekedar formalitas acara belaka. Betapa memprihatinkan. ( tos ahhh...lieuuuuurrrrrr....)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar